header image

..di negeri seberang jalan yang di dalamnya hidup seragaman manusia, tersebutlah sebuah kisah seorang pemimpin bergelar La Presidente Lang dengan segala tindak tanduknya yang menggemaskan.


Pada suatu hari, La Presidente mendapatkan ide dari para pembisik yang bertaburan bak bintang di sekelilingnya, untuk menjalin kerjasama bilateral dengan sebuah negeri yang pemimpinnya bergelar Daeng Nyompa. Singkat cerita, maka bertolaklah La Presidente Lang ke negeri Daeng Nyompa dengan acara pelepasan yang meriahnya melebihi pesta Rambusolo-nya Tana Toraja.

Dengan langkah yang muantep mentong di atas karpet merah berceceran darah, Daeng Nyompa pun menggelar protokoler penerimaan sebagaimana lazimnya manusia yang tak biadab. Setelah basa-basi ala kadarnya, La Presidente Lang pun dengan gaya negosiator ulung bergegas menyampaikan hajatan dari lawatannya kepada daeng nyompa.

“Duhai Paduka Mulia daeng nyompa, daku atas nama segenap rakyat negeri seberang jalan menyampaiken kehendak daripada keinginan kami untuk menjalin persatuan dan kesatuan serta hubungan intim penuh keakraban dengan negeri paduka. Sudilah kiranya paduka mulia mengijabah niat tulus kami ini” Celoteh La Presidente Lang memecah keheningan.

Setelah manggut-manggut elegan & seolah-olah mikir, daeng nyompa pun menimpali “yah..gimana yah. Gue sich nggak ada masalah.Yang masalah kan antum. Tapi mengingat jasa-jasa para pendahulu di medan laga, sepertinya kita bisa mewujudkan kehendak bersama itu”

“Tapi ada syaratnya” Sergah daeng nyompa bak orang yang sedang memburu angpao imlek.

“Syarat apakah gerangan duhai paduka mulia?” Sambut La Presidente Lang dengan mimik yang mirip orang menahan ambeian.

“Gue punya anjing yang sejak dari orok terkerangkeng dalam kandang besi baja tempaan empu sakti dari kepulauan Wakatobi. Kalo anda bisa membuat anjing saya tertawadan kemudian menangis, maka kerjasama bilateral ini bisa tercipta”. Kata daeng nyompa sambil senyum gleter*

“Oke. Deal” Sambut La Presidente Lang bak seorang taipan yang sedang melihat peluang keuntungan transaksional.

Maka bergegaslah mereka ke tempat kandang anjing itu. La Presidente Lang kemudian dengan gaya suster ngesot menghampiri kandang dan menyapa anjing yang sedang dalam posisi wuenak dalam kandangnya itu. “Hi, bro. Pa kabar nih” Sapanya sok akrab. Namun, anjing itu tetap cuek tak bergeming.

La Presidente Lang tak putus asa. Dia tambah mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga anjing tersebut. Aneh bin ajaib, anjing itu sontak tertawa terbahak-bahak, seperti habis nonton komedi tawa sutra-nya anteve. “Wuahahaha…wuahahaha” Ledakan tawa anjing itu membumbung tinggi, menyelusup di relung-relung hati yang gelisah & menggetarkan menara eiffel di Perancis.Sejenak, butterfly effect mendapatkan pembenaran epistemiknya.

daeng nyompa terduduk heran sambil matanya sibuk hilir mudik dari anjing ke La Presidente Lang, kemudian kembali lagi ke anjing dan kemudian kembali lagi ke La Presidente Lang dan seterusnya..

Kemudian lagi, La Presidente Lang membisiki anjing tersebut ..dan tiba-tiba langit menjadi mendung, petir menyambar-nyambar mengiringi lolongan anjing yang meraung-raung, menangis seperti tangisan Sitti Nurbaya ketika dinikahkan dengan Datuk Meringgih.

Untuk kesekian kalinya daeng nyompa terduduk heran sambil matanya sibuk hilir mudik dari anjing ke La Presidente Lang, kemudian kembali lagi ke anjing dan kemudian kembali lagi ke La Presidente Lang dan seterusnya..

Namun, La Presidente Lang tiba-tiba dengan mesranya meremas mesra tangan (atau kaki?..entahlah) anjing tersebut dan membisikkan sebait kata yang mungkin pemirsa di rumah dan penonton di studio tidak akan bisa mendengarnya karena adanya artefak mental sensor.

Keajaiban dunia pun tiba-tiba menjadi bertambah saat itu juga. Anjing yang selama hidupnya enggan dan tak pernah bisa menembus barikade besi-baja itu pun dilabraknya dengan mudah dan dengan muka ketakutan dia meronta dan berlari meninggalkan kandangnya dengan sukses.

Untuk kesekian kalinya lagi, daeng nyompa terduduk heran sambil matanya sibuk hilir mudik dari anjing yang lari terbirit-birit ketakutan ke La Presidente Lang, kemudian kembali lagi ke anjing dan kemudian kembali lagi ke La Presidente Lang dan seterusnya..

Setelah mengerahkan 1000 unit detasemen khusus 2331 dan dibantu satuan politisi penangkap anjing, maka anjing itupun berhasil diringkus dan dipastikan akan menghadapi tuntuan subversif dengan pasal-pasal kue lapis. Tim Ad-Hoc pun mulai menginterogasi anjing tersebut dengan dipimpin langsung oleh daeng nyompa.

“Anjing, mengapa kau tertawa. Kau telah melakukan tindakan makar, menghina pemimpin negeri sahabat kita” Hardik daeng nyompa pada anjingnya.

“Aku tertawa bukan dengan maksud menghina apatah lagi makar, Tuan. Aku tertawa karena orang itu berbisik kepadaku, katanya ..jelek-jelek begini, aku ini pemimpin di negeri seberang jalan lho. Makanya aku tertawa karena tidak percaya,..logika konstitusi ketampanan macam apa yang melegalkan orang sejelek dia menjadi pemimpin di sebuah negeri? Nda percaya aku,..suerr” Kata anjing bak advokad handal yang sedang membela konglomerat hitam dengan gigihnya.

“Trus, mengapa setelah kau tertawa kau tiba-tiba menangis?. Apakah kau juga sudah mengidap syndrom scizofrenia yang kronis?” Tanya daeng nyompa sambil tertawa termehek-mehek.

“Dia berbisik padaku tuan, katanya dia itu memimpin sekitar 100 juta jiwa penduduk di negerinya. Aku sedih tuan. Aku kasihan pada 100 juta jiwa penduduk di negeri itu..kok bisa-bisanya mereka memilih dan dipimpin oleh manusia jelek bin brengsek seperti dia. Apa sudah tidak ada lagi kader-kader muda progresif-revolusioner yang lebih layak?. Mendengarnya saja hatiku sudah seperti diiris-iris oleh Ryan” Tutur anjing sambil sesekali terisak, sedu sedan itu.

“Lalu, mengapa kau seperti ketakutan dan lari meninggalkan peraduanmu?” Tanya daeng nyompa.

“Tuan, jujur saja. Terlepas dari ketololan Darwin menulis dongeng tentang evolusi,..aku memang seorang..eh..maksudku, seekor anjing. Tapi aku tak sudi dipimpin oleh manusia seperti dia. Dia mengajakku untuk pergi piknik di negerinya. Tak kuasa aku membayangkan bagaimana nistanya hidup di negeri yang dipimpinnya itu. Mungkin sekali saja aku menjejakkan kaki di negeri itu, neraka pun tak sudi menampungku setelah reinkarnasi penghabisan nantinya”


Daeng Nyompa pun terhenyak, dengan langkah gontai tak terarah dia pergi meninggalkan istananya. Dengan sebatang rokok, daeng nyompa seakan menantang titah penghulu-penghulu adat istiadat negerinya. Setelah habis sebatang, kemudian berpindah lagi ke batang yanng ke-dua..sampai kemudian semua uang kiriman Ibu Suri yang diterimanya setiap bulan habis. Habis rokok, habis tongmi cerita..

Aih..

*gleter : genit, ganjen (bahasa makassar)

(kisah ini adalah fiktif belaka. klo ada kesamaan nama,alamat & peristiwa dimohon agar tidak melaporkannya kepada Tuan Yang Kuasa..diceritakan dari generasi-ke generasi, dari mulut ke mulut, dari aksi-aksi jalanan sampai di sudut2 kostsambil mengintipi tetangga kost yang sedang praktikum ajaran sesat-mesum dengan sesamanya oknum mahasiswa…titik. daripada ngelantur bos)

under: Uncategorized

Robohnya Suara Kami

Posted by: abdulwaris | January 30, 2009 | 1 Comment |

dalam penantian menunggu redanya badai
aku jatuh cinta
rindu pada sepoi

oi kawan,
kabarkanlah
padanya

aku menunggunya

di persinggungan cahaya
dan benih embun pagi

under: Uncategorized

Om-ku dari Brasil Berkata

Posted by: abdulwaris | November 10, 2008 | No Comment |

ketika saya memberikan makanan kepada orang miskin, saya dianggap orang baik. Tetapi, saat saya mempersoalkan kenapa mereka miskin, saya dituduh komunis

(Dom Helder Camara)

under: Uncategorized

SKIZOFRENIA & MASYARAKAT MATI RASA

Posted by: abdulwaris | November 10, 2008 | 1 Comment |
Kata Kunci: kritik media, public-sphere, ekonomi neoliberalism, alienasi

Prolog; Semesta Hampa Makna
Manusia lahir, hidup dan mengakrabi makna-makna melalaui selang-selang pengetahuan yang salah satu inang pengasuhnya bernama informasi. Mazhab apapun akan mengakui bahwa informasi sebagai ruang hilir-mudiknya pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber, bahkan pada hal-hal yang telah terlanjur dianggap berada di luar area logis atau mitos semata. Kita memang sedang berada dalam semesta yang begitu melimpah informasi, tapi juga begitu hampa makna (Jean Baudrillard). Kosmologi kehampaan makna inilah yang kemudian menjadi orangtua baptis dari kegamangan, kegalauan, kesimpangsiuran yang dalam terminology sederhana setara dengan anomaly di realitas dengan kemarau krisis yang memanjang. Manusia-manusia yang hadir di realitas ini pun adalah makhluk yang telah tersublimasi tata nilai dan geraknya. Screen realitas yang terpampang pun juga adalah realitas sublime, realitas artifisial yang lahir ketika citraan telah menggeser realitas yang dicitrakannya(hiperrealitas). Hiperrealitas inilah yang kemudian menjadi kepompong lahirnya peradaban yang telah terpotong nilai intrinsiknya oleh komodifikasi demi penciptaan komoditas yang laik pasaran.
Hukum besi sejarah memang tunduk di hadapan daulat waktu yang bermahkotakan perubahan, di mana proses suksesinya ditandai dengan perpindahan dari kelampauan menuju kebaruan yang terus-menerus. Namun, ternyata perpindahan itu bukannya lahir dan berproses di ruang hampa “pemberian makna” melainkan melewati tarung interest dalam penentuan warna serta kemasannya. Sehingga patut dimaklumi bahwa yang mencuat kemudian di kosmologi kehampaan inipun bukanlah sesuatu yang bebas nilai dengan obyektifitas seadanya, melainkan konstruk yang menyerap banyak energy keabsahan, kewajaran & ke-halalan.
Informasi melalui berbagai macam medium memang sangatlah penting di saat terjadi keterpindahan otoritas dari sebuah tatanan lama, akan tetapi keberlimpahan informasi yang berwujudkan kesimpang-siuran hanya akan semakin mempertegas watak ambivalen dari mesin-mesin produksi informasi. Di satu sisi, kelimpahan informasi berderma dengan pengayaan referensi dalam penentuan pilihan, tapi di sisi lain menciptakan kebisingan dan keterpelintiran dari maknanya yang azali. Dekonstruksi pun menjadi tersesat di tengah terowongan gelap dan manusia-manusia di dalamnya mengalami kemiskinan optikal atau malah kebutaan pandangan di tengah ruang berlimpah warna, kesunyian di tengah ragam nada, kehausan di tengah telaga. Inilah era di mana amplop surat terbawa oleh tukang pos sementara isi suratnya masih dalam angan penciptaan dan penerimanya dengan riang berlari menjemput birahi tukang pos di semak ritual filantropi yang telah tergadai di loakan moralitas pasar. Zombie yang berjalan di belantara hidup. Paradoks, Hampa.

Skizofrenia & Hiper-x
Skizofrenia, didefinisikan sebagai “. . .putusnya rantai pertandaaan, yaitu, rangkaian sintagmatis penanda yang bertautan dan membentuk satu ungkapan atau makna” (Jacques Lacan). Ketika rantai pertandaaan terputus, yaitu ketika penanda tidak lagi berkaitan dengan petanda dengan ikatan yang pasti, maka yang kemudian tercipta adalah ungkapan skizofrenik, berupa serangkaian penanda yang satu sama lainnya tidak berkaitan, yang tidak mampu menghasilkan makna. Satu penanda tidak lagi terikat pada satu petanda, sebagai ciri dari ungkapan bahasa yang ‘normal’ (konvensional). Di dalam bahasa skizofrenia, “. . .semua kata atau penanda dapat digunakan untuk menyatakan satu konsep atau petanda. Yang kemudian terjadi adalah persimpangsiuran kata atau penanda untuk menyatakan satu konsep. Di dalam wacana hiper-realitas media, tanda-tanda digunakan di dalam sebuah ajang ‘permainan penanda’ (free play of signifiers), yang menciptakan kondisi kegalauan bahasa dan informasi yangdi dalamnya pencarian makna dan kebenaran menjadi mustahil.
Ketunggang-langgangan informasi dengan kecenderungan subversive (dekonstruksi) terhadap kode-kode sosio-kultual dan moral yang tanpa batas sehingga kekaburan limitasi pada gilirannya adalah sebuah dunia ketelanjangan yang serba tersingkap, serba diekspose. Di dalamnya tidak ada lagi batas-batas mengenai baik/buruk, benar/salah, boleh/tak-boleh, berguna/tak-berguna untuk ditampilkan di screen dan menciptakan semacam kondisi hiper-moralitas, yaitu lenyapnya batas-batas moral itu sendiri di dalam wacana ketelanjangan media (Yasraf A. Piliang). Akutnya, scizofrenia menjadi sindrom yang tak lagi mendatangkan resah bagi pengidapnya, karena limitasi normalitas & abnormal tak lagi menemukan tirai pembatas pada kode-kode nilai, moral, social dan cultural. Tunggang-langgang, simpang-siur…chaos.

Lucifer Berwajah Malaikat & Masyarakat Mati Rasa
Sebelumnya kita telah memahfumkan bahwa di semesta hampa makna, bermain berbagai banyak interest dan yang paling berkepentingan bagi penentuan pengemasan konstruk dan pemaknaan realitas adalah interest ekonomi dan kekuasaan politik. Interest ekonomi & kekuasaan politik inilah yang akan mentukan apakah informasi yang disampaikan oleh sebuah media mengandung kebenaran (truth) atau kebenaran palsu (pseudo-truth); menyampaikan obyektivitas atau subyektivitas; bersifat netral atau berpihak; merepresentasikan fakta atau memelintir fakta; menggambarkan realitas (reality) atau mensimulasi realitas (simulacrum).
Publik dan masyarakat pada umumnya, terperangkap di tengah arus kepentingan ekonomi (pasar-global) dan hasrat kekuasaan bertabiat rakus yang menjadikan mereka sebagai ‘mayoritas yang diam’ (silent majority) yang tidak mempunyai kekuasaan dalam membangun dan menentukan informasi di ranah publik (public sphere) mereka sendiri, massa yang tidak mempunyai daya resistensi dan daya kritis terhadap tanda-tanda yang telah dikomunikasikan kepada mereka. Sialnya lagi, yang tertangkap malah tanda-tanda dari realitas artificial, realitas citraan yang dicangkokkan dan menjadi benalu di realitas yang dicitrakannya.
Di satu pihak, ketika ranah publik dikuasai oleh ‘politik informasi’ (politics of information) atau ‘politisasi informasi’, yang menjadikan informasi sebagai alat kekuasaan politik, media menjelma menjadi ‘perpanjangan tangan penguasa’ dengan menguasai ruang publik tersebut (seperti pers Orde Baru); di pihak lain, ketika ia dikuasai oleh ‘ekonomi-politik informasi’ (political-economy of information), informasi menjadi alat kepentingan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, dengan cara mengeksploitasi publik, sebagai satu prinsip dasar dari kapitalisme. Massa yang dikepung oleh berjuta tanda dan citra, tidak mampu lagi menginternalisasikan makna yang dihasilkannya. Massa dengan manusia-manusia yang telah mati rasa. Kematian premature menjadi wabah yang mengancam eksistensi manusia beserta ruang kemanusiaannya.

Pre-Epilog; Massa Kritis di Atas Perahu Nabi Nuh
Tentunya, sebelum kiamat dengan realitas kematian yang lebih factual, kita masih dianugerahi satu keberuntungan oleh perjalanan waktu yakni peluang kreatifitas untuk mencegah berkembangnya hiper-realitas, banalitas ke arah sifat dan efek-efek yang ekstrim, yaitu ke arah turbulensi total, ketidakmungkinan kebenaran, serta massa yang apatis maka langkah antisipasif kiranya dapat ditempuh. Pertama, penciptaan kondisi de-hiper-realitas (de-hyper-reality), yaitu pengendalian ekstrimitas komunikasi dan informasi yang akan tersampaikan ke massa/public, melalui regulasi sampai pada sebuah batas, yang di dalamnya informasi yang dapat diinterptretasikan dan dicerna oleh masyarakat secara logis dan bermakna. Kedua, memperkuat jaringan civic education, untuk menciptakan masyarakat warga sebagai ‘mayoritas yang kritis’ (the critical majorities), yaitu warga yang mempunyai daya kritis, daya tangkal dan daya resistensi yang kuat terhadap informasi, bukan massa sebagai ‘mayoritas yang diam’ (the silent majorities). Ketiga, menciptakan counter-media, yaitu media-media publik (televisi publik, radio-publik, koran-publik), yang tumbuh dari publik, diawasi oleh publik, dan mampu memperjuangkan kepentingan-kepentingan publik yang sangat beraneka-ragam (keadilan, kesejahteraan, kesetaraan, kebebasan). Tentunya hal itu hanya terlahir dari manusia-manusia tercerahkan, -rausyanfikr dengan militansi ideologis dan kecakapan metodologik yang tangguh bergerak bersama massa aksi membebaskan keterjajahan masyarakat yang diam dalam kecemasan.

bersambung…

f.n:
- disampaikan pada training HMK FMIPA UNHAS, di BAPELKSES Antang-Makassar, 7 Juni 2008 .
- dicopy-paste dari berbagai sumber.
- setiap karya pengetahuan wajib dibajak

under: Science

Pengantar Ilmu Kuasa

Posted by: abdulwaris | November 10, 2008 | No Comment |

1. Merangkak di Atas Trauma; Sebuah Pengantar Tulisan

Tulisan berikut ini adalah citraan penegasan atas kegamangan yang dialami secara psikis oleh penulis. Kegamangan yang terlahir dari trauma yang belum tersembuhkan dan terehabilitasi (entah sampai kapan datangnya berita gembira itu, jika memang akan ada atau setidaknya memang pernah ada sebelumnya).

2. Prolog; Sengketa Otoritas

Alkisah, setelah proses penciptaan makhluk bumi bernama manusia, Tuhan menginstruksikan kepada segenap penghuni surga untuk bersujud kepada manusia yang kemudian bernama Adam tersebut, dan seluruh penghuni surrga ciptaan_nya pun bersujud kepada Adam, terkecuali malaikat yang bernama iblis. Iblis membantah perintah Tuhannya untuk sujud kepada Adam dengan argumentasi kemuliaan penciptaan iblis yang lebih duluan dicipta dari api daripada manusia yang hanya terbuat dari adonan tanah lumpur yang hitam. Tuhan-pun murka dan mengutuk malaikat serta mengusirnya dari rumah surga-Nya.

Pembangkangan malaikat bernama iblis yang kemudian berubah nama menjadi setan, merupakan dan diyakini oleh umat penganut beberapa agama semit adalah tindakan makar dan subversif yang mengancam dan tidak meratifikasi otoritas ketuhanan Tuhan. Sejak itu, setan berpindah dari kepatuhan akan segala otoritas Tuhan menjadi oposisi yanng berebut pengaruh dan pengikut di kalangan anak-cucu Adam. Kisah di atas, bukanlah fiksi biasa (meski tak bisa dikatakan fakta sejarah) karena di kalangan penganut agama-agama sejak zaman purba konsepsi ini tertanam dan disampaikan dengan berbagai ragam instrumen penyampaian sesuai dengan alur perkembangan pengetahuan di setiap zaman.

Pada zaman lampau terdapat sebuah mitos tentang Promotheus yang nekad menyelinap di kediaman Tuhan dan mencuri api ke-Tuhanan, yakni api ilmu-pengetahuan dan menyebarluaskannya kepada manusia di bumi, sehingga manusia tersebut dihukum oleh Tuhan atas kelancangannya. Mitos ini mengingatkan kisah-kisah para wali penganjur agama Islam di Jawa (Walisongo) yang meng-inkuisisi salah seorang wali bernama Syekh Siti Jenar karena menyampaikan ajaran yang menyangkut hakikat pengetahuan dan spiritualitas-transendent (yang saat itu menjadi ilmu rahasia para wali) kepada masyarakat awam.

Sengketa dan konflik memperebutkan kekuasaan, jelas bukanlah barang baru, setidaknya diukur dari usia mitos-mitos, dongeng-dongeng dan usia teks-teks keagamaan yang ada. Terlepas dari kebenaran ataupun hanya isapan jempol belaka, teks-teks tersebut setidaknya menceritakan adanya kondisi, peristiwa ataupun refleksi yang menjadi indeks atas adanya sengketa dan konflik di zaman beredarnya teks-teks tersebut.

Sengketa, terlahir sebagai keniscayaan atas keragaman yang ada. Karenanya, selain bermotifkan pada perebutan sumber daya, sengketa juga disebabkan oleh adanya motif pelestarian identitas primordial atau kelompok dari kepunahan atau perebutan posisi superioritas.

Alur prespektif, pandangan manusia tentang kehidupannya, dapat kita jadikan referensi pertama dalam memahami sengketa/konfllik, antara lain karena latar historis dan karakteristik yang unik, masing-masing dilahirkan sebagai laki-laki dan perempuan, dilahirkan dalam cara hidup tertentu dan karakteristik konsepsi nilai yang dipahami sangat beragam sehingga melahirkan konflik yang secara general bergulir pada lima isu utama, yaitu : kekuasaan, budaya, identitas, gender dan hak (Abdul Syukur Ahmad Bafadal, Analisis Konflik)

3. Kekuasaan dan Instrumen Politik Penguasaan

Kekuasaan, merupakan sebuah istilah yang memiliki pengertian dan makna yang sangta majemuk mengingat keberagaman penggunaannya oleh berbagai cabang ilmu pengetahuan serta dari berbagai sudut pandang yang sangat perspektif. Namun, ada satu prinsip umum yang menjadi definisi operasional yang sangat sederhana dari kekuasaan, yaitu bahwa ia cenderung dipertahankan oleh orang yang memilikinya dan menjadi obyek agigatif yang luar biasa bagi yang menginginkannya.

Kecenderungan umum yang menjadikan manusia untuk senantiasa dapat mengakses dan mencipta kepercayaan inilah yang menjadi daya pendorong yang kuat, sehingga “kehendak untuk berkuasa” (will to power) menjadi sesuatu yang kosmopolit, meski di saat yang sama ada saja yang lebih suka mengambil posisi “kehendak untuk pasrah” (will to submission). Dorongan ini tentunya ada dalam diri setiap orang. Perbedaanya hanya gradual.

Yang membuat definisi kekuasaan menjadi sangat dialektis adalah ketika pengggunaan berbagai ragam instrumen politik kekuasaan pada pencapaianlegitimasi kekuasaan sebagai esensi pengontrolan atas manusia lainnya dalam bentuk penerimaan dan atau dukungan dari mansuai lainnya.

Kekuasaan dalam melanggengkan kondisi status quo-nya secara umum menggunakan beberapa instrumen, di antaranya : kekerasan kursif, dominasi serta hegemoni.

a. Kekerasan Koersif
Adalah Niccolo Machiavelli yang dalam konteks politiknya memnadang kekuasaan sebagai sesuatu yang cenderung dilanggengkan oleh penguasa dengan berbagai cara, sebagaimana tersirat dalam pemikirannya tentang penggunaan cara-cara kekerasan dan represi seperti teror, intimidasi, penculikan, penyiksaan, penghilangan paksa, dan pembunuhan dalam rangkka mempertahankan kekuasaan. Politik kekerasan ini kebanyakan diterapkan oleh penguasa negara (state) seperti di zaman orde baru Soeharto, Augusto Pinochet, Saddam Husein dan sebagainya.

Malah, Althusser, melihat penggunaan kekerasan dalam mempertahankan kekuasaan menjadi bagian penting dari sebuah tata struktural rezim penguasa dalam wujud struktur aparatur negara represif, semisal TNI, POLRI, Satpol PP, SKK sampai pemafaatan tenaga milisi bayaran (premanisme).

Kekerasan memang menjadi sangat efektif diterapkan dengan tujuan menciptakan stabilitas dan keamanan dari gejolak sosial dan potensi ledakan protes massa yang ada. Namun, seiring denngan semakin banyaknya rezim-rezim otoriter-militeristik yang menggunakan instrumen kekerasan kursif dan represi yang ditumbangkan dengan gerakan massa aksi (people power), maka pengguanaan instrumen ini menjadi sangat tidak terlalu efektif untuk mengelola kekuasaan demngan murni instrumen kekerasan semata.

b. Dominasi
Beberapa pemikir, terutama pemikir Marxian memandang bahwa telah terjadi dominasi oleh kelas penguasa serta pemilik modal (kaum borjuasi) atas kellompok proletariat dengan pendasaran pada kepemilikan faktor-faktor produksi dalam tata ekonoomi politik liberal. Dominasi Kelas (class domination) yang diperkenalkan oleh Karl Marx dalam Das Kapitalnya menjelaskan bahwa kelas-kelas pekerja (proletariat) dikontrol oleh kekuatan dominasi dari kakum-kaum borjuis, sehingga kekuasaan penguasa menjadi terjaga, karena kepemilikan sumber daya capital serta sarana produksi lannya tidak dimiliki oleh kelompok yang termarginalkan tersebut. Lebih lanjut, Marx menyatakan bahwa telah terjadi dominasi oleh sekelompok elit atas mayoritas yang terbungkam (silent majority). Penggunaan dominasi ini menjadi efektif dengan adanya (teori) konspirasi dalam kekuasaaan di mana terjadinya kontrol atas kelas pherypheral tersebut

Dominasi pun bisa terlihat pada kondisi adanya pengekangan atas kelompok minoritas oleh mayoritas yang dominan ada. Biasnya dapat meluas pada muncunya isu-isu yang bergenre rasial serta kejadian genocide seperti kisah holocaust yang dipahami oleh kubu ekstrim zionis Yahudi.

c. Hegemoni
Namun, beberapa pemikir berpendapat bahwa kelanggengan kekuasaan tidak hanya diperoleh dengan penggunaan kekerasan represif atau dominasi, termasuk penggunaan teori konspirasi dalam kekuasaan. Antonio Gramsci, pemikir Marxian asal Italia memandang kekuasaan itu lebih efektif dipertahankan dengan penggunaan prinsip hegemoni dengan melihat bahwa pertarungan kekuasaan dapat dipandang sebagai sebuah pertarungan ide-ide yang dapat mempengaruhi hasrat dan tingkah laku seseorang dengan branding image yang lebih manusiawi.

Prinsip hegemoni dalam reproduksi kekuasaan ini adalah berupa perekayasaan idealitas masyarakat dengan cara-cara stimulasi dan perekayasaan realitas sehingga realitas yang dikonsumsi dan diyakini oleh masyarakat adalah realitas hasil cipta dari sebuah pertarungan ide-ide. Kehadiran media massa (yang mereproduksi iklan, lifestyle dan sebagainya) dalam mereproduksi ide-ide hibrid menjadi sangat penting untuk merekayasa realitas yang simulatif dan simultan, sehingga realitas ada pada kondisi hiperralitas. Realitas kedua, realitas yang pseudo. Selain media massa, negara dalam wujud struktur aparatus ideologisnya menjadikan penciptaan atau tepatnya perekayasaan kesadaran masyarakat sangat efektif menurut Althusser. Aparatur ideologis inilah yang sangat erat kaitannya dengan suntikannya pada lembaga pendidikan, keagamaan, kesenian dan sebagaimnnya dalam rangka penciptaan narasi besar dan aturan main.

4. Epilog; Penguasa dan Moralitas Kekuasaan
Kedekatan seseorang dalam makna subyek dengan kekuasaan sama halnya dengan kedekatan seorang nasabah terhadap bank untuk mendapatkan kredit serta fasilitas-fasilitas yang disediakan. Dalam kedua keadaan tersebut, yang diperlukan adalah kesanggupan untuk mendapatkan akses dan kemampuan untuk menciptakan kepercayaan.

Ketika kepercayaan ada, maka seseorang akan mendapatkan kemudahan akses. Namun kettika kepercayaan itu hilang, maka hilang pulalah kemudahan akses dan hal itu berarti kekuasaan menjadi jatuh.

Kepercayaan yang dimaksudkan di atas, bukanlah serta merta hanya pada ranah legitimasi saja, melainkan lebih pada wilayah bangunan moralitas yang diciptakan oleh kekuasaan di masa berkuasanya. Bisa saja, legitimasi formal-prosedural masih ada di tangan penguasa, akan tetapi leagitimasi informil berupa pengakuan serta pencitraan tirani para penguasa akan menjadi mesin akselerator kejatuhannya yang hanya menunggu waktu.

under: Science

Anggap Saja Inimi Judulnya

Posted by: abdulwaris | October 31, 2008 | 3 Comments |

jika seorang wanita menangis di hadapanmu
itu berarti dia tak dapat menahannya lagi

jika kamu memegang tangannya saat dia menangis
dia akan bersamamu sepanjang hidupmu

jika kamu membiarkannya pergi,
dia tidak akan pernah kembali lagi
menjadi dirinya yang dulu,
selamanya…

seorang wanita tidak akan menangis dengan mudah,
kecuali di depan orang yang amat dia sayangi
dia menjadi lemah

seorang wanita tidak akan menangis dengan mudah,
hanya jika dia sanngat menyayangimu,
dia akan menurunkan egoisnya

lelaki,
jika seorang wanita pernah menangis karenamu,
tolong pegang tangannya dengan penuh pengertian

dia adalah orang yang akan tetap bersamamu
sepanjang hidupmu

lelaki,
jika seorang wanita menangis karenamu
tolong jangan menyia-nyiakannya

mungkin karena keputusanmu,
kau merusak kehidupannya

saat dia menangis di depanmu,
saat dia menangis karenamu,

lihatlah matanya….
dapatkah kau rasakan
sakit yang dirasakannya ?

pikirkan…

wanita mana-lagikah yang akan menangis
dengan murni, penuh rasa kasih sayang,
di depanmu
dan karenamu….

dia menangis bukan karena dia lemah
dia menangis bukan karena dia menginginkan simpati
atau rasa kasihan

dia menangis,
karena menangis dengan diam-diam
tidaklah memungkinkan lagi

lelaki,
pikirkanlah tentang hal itu

jika seorang wanita mengisi hatinya
untukmu,
dan semuanya karena dirimu
inilah waktunya untuk melihat
apa yang telah kau lakukan untuknya,

hanya kau yang tahu jawabannya…

pertimbangkanlah
karena suatu hari nanti
mungkin akan terlambat untuk menyesal,
mungkin akan terlambat untuk bilang ‘MAAF’!!!

(tulisan anonim ini saya temukan di antara jejeran puntung rokok yang sedang apel siaga. entah ditulis oleh siapa & untuk apa…pastinya tidak sepertiji cerita pembuka Dunia Sophie. Ditulis kembali untuk kepentingan yang beraneka-ragam corak & variannya,…mulai dari target meluluhkan kebringasan hati sampai sbagai komoditas politik ala pilkada-pilkada’an…..namanya juga isengji..issengko deh)

under: Uncategorized

Pesta Buah di Rumah Nenek

Posted by: abdulwaris | August 10, 2008 | 2 Comments |

mangga masih terlalu mengkal
memaksanya cepat ranum, hanya akan merusak taste
lagian, kita butuh banyak karbit high quality

tapi,
menunggu ranum di pohonnya adalah kerja melelahkan

waspadalah,…
batman lupa melepaskan topengnya di siang hari.

kita sedang mempertaruhkan darah.
Saatnya mengintai senja
di balik bukit

kutunggu kau di sudut resah

under: Science

SBY Sakit Gigi

Posted by: abdulwaris | August 3, 2008 | 1 Comment |

aduh
aduhai

under: Weblogs

Raungan Martir; Sirene Mimpi Buruk Bagi Tirani

Posted by: abdulwaris | July 25, 2008 | 1 Comment |

kata
pengantar perlawanan

(untuk anakku yang senantiasa terlahir dan mencipta)

 

salam damai hanya
bagi revolusioner muda

yang tegar menantang
zaman

kutukan binasa untuk
ketidakjelasan sikap

yang sembunyi di
balik ketiak kekuasaan tirani

laknatullah ‘alaih

 

ini jimat sakti dari
kawah deritanya kaum miskin-papa

dari jeritan lukanya
petarung tangguh

yang mencengkram bara
kesaksian

kesaksian sejarah
para nabi

 

ini skripsi ampuh
intelektual pemberontak

yang ditulis di
sela-sela perihnya pedagang kecil disantapi urban-industri

yang ditulis di sela-sela
amukan pentungan aparat pecundang

tentang terkaitnya
makna pada kata

perlawanan ideologis
atas rezim fir’aun, rezim bal’an, rezim qabil

laknatullah ‘alaih

 

pengantarku adalah
barisan seram

mimpi buruk bagi
tirani

pengiringku adalah
barisan kata perlawanan

tak berujung-tepi

sebab dari kemarin
tegur-sapaku

menjadi takdir
perubahan zaman

menjadi salam penutup
lembaran abadi

adil-makmur

 

kampus unhas makassar, 14 september 2005

 

 

 

meski aku bukan bunga

yang takut layu dan
tercabut akarnya

 

meski
aku bukan bunga yang takut layu

dan
tercabut akarnya

tapi
jangan lupa siraman penyegar

di
teriknya bara ini kami nantikan

bukan
diam, ejekan atau fragmentase

 

meski
aku bukan bunga yang harum

pengisi
taman cerita heroik

tapi
jangan lupa aku bukan parasit

seperti
mereka

yang
harus diganyang hingga binasa

 

meski
aku bunga yang tak lagi mekar

perawan

tapi
jangan fitnah aku sebagai pelacur

sebab
aku tak pernah jadi anjing

yang
menjilati pantat bernanah

kaum
tiran

 

meski
aku bunga harum

memabukkan

tapi
jangan terlena

tertidur

tertipu

oleh
fantasi, kenangan dan bualan

 

makassar, 15 september 2005

 

 

jumát
berdarah

 

dari bukit zion
menyala sirene marah

dari moncong
terkokang siap memangsa

manusia makan manusia

 

entah kapan catatan
ini terisi

dengan limbah

dengan sampah

dengan sumpah

dengan serapah

pp…..puah

 

kita memang selalu
amnesia

setelah pura-pura
insomnia

kalau ini hari jumát
tak boleh berdarah

kecuali tuhan
menghendaki?

 

pp…..puah

pahamilah keadilan

ini hari jumát

 

makassar, 31 desember 2004

 

coret-coret

 

hi..hi..hi

hi..hi..hiii…

ihik…ihik…ihik…

ihhik…ihhik

huk…huk…huk

hhuk…hhuk

 

akkhhh…

 

tamalanrea-makassar, 23 desember 2004

menanti pagi yang terang

(balada tentara vs tentara)

 

segerombolan rayap
menggerogoti tiang bendera

sejarah nenek
moyangku

hingga tak lagi tegak

condong ke barat dan
nyaris roboh

tali kekangnya pun
sudah renggang

oleh rayap-rayap yang
bergerombol

 

segerombolan tentara
yang kemarin siang dimaki massa

merayap dengan
senapan siap tembak

menjaga
demarkasi-mengintai musuh

yang juga merayap
terbata dengan bata di tangan

dan sabit di pinggang

 

tiang bendera
tiba-tiba meludah kecut

resah

pilih rebah ke barat
tu menaungi rayapan

bata-sabit?

 

di pagi yang merdeka

merdeka yang kepagian

 

makassar, november 2004

 

 

dengarlah teguran
sabda alam

 

jikalau
ini teguran kepada koruptor

kenapa
mesti rakyat miskin ikut terseret

mereka
kan tak ikut korupsi?

seperti
bapak-bapak yang di sana

 

jikalau
ini tamparan

tegakah
tangan itu menjamah pipi mungil si bayi

dan
keriputnya dahi si tua

 

tidak..tidak

ini
bukan petaka

bukan
pula karena kita tidak ber-uang

untuk
beli seismograf

atau
mencairkan pundi-pundi beku

karena
minyak mencekik

 

ini
sabda alam

yang
mengambil jatah gizinya

setelah
bosan

dikuras…..

dikencingi…..

dan
disanjung-manis

 

dengarlah

teguran
sabda alam

jangan
lupa sikat gigi sebelum membaca

 

makassar, 26 desember 2004

 

matahari ganti kulit

 

dengan hitungan
mundur

matahari mengelupas

ozon menggelepar

dan rembulan
megap-megap menyibak mendung

 

ini perjalanan masa

di mana kita tercekik
penjara

tunduk

meski lenguhan
sesekali menegur lirih

setelah itu bungkam

 

lihat, matahari
sedang ganti kulit

karena gerah
dikerangkeng ambisi

 

dan kerak itupun
terbuang

dalam bingkisan
tsunami

dalam bingkisan
kertas minyak

dalam tumpukan meja
hijau

 

dan koreng itupun
melepuh

pada dendam pada
birahi alam

yang kemarin tak
terbalaskan

 

lihat, matahari sudah
ganti kulit

sekarang lagi
berendam

bersama tumpukan
roh-roh

yang melayang dengan
kaget

mendengar jeritan
terompet

pada pengantar doá
makan

 

ini perjalanan masa

di mana kita harus
berendam

atau direndam

 

makassar, awal januari 2005

 

 

lahirkanlah, ibu

(puisi untuk ibu)

 

ketuban
pecah

rahim
terkoyak

tersembullah
jeritan si orok

menantang
sembilan hitungan

dengan
tangan terkepal bulat

utuh

 

si
ibu menyeringai

serigala
melolong mesra

menatapinya
di balik matahari

dengan
birahi

melihat
si hijau menetek mesra

 

jangan….

jangan….

jangan
relakan ia diasuh dajjal

yang
memasak bubur dengan tangan dekil

yang
menciumi budak

sambil
tangan membanting kompor

untuk
janji 1001 malam

 

jangan….

jangan…..

 

lihatlah
si orok menolak bapak

karena
mulutnya bau asbak

habis
sidang di gedung tingkat

 

jangan…

jangan….

jangan-jangan

 

makassar, 21 desember 2004 pkl.13.11 wita

 

kaum miskin, majulah !

 

biarkan matahari
merah

melepuh dalam bara

dan kulit-kulit
terbakar gosong

menanti rerumputan
marah

 

beras-beras yang
terbagi di pembuangan

perut kempis teratur

jelas, itu maunya
rezim

 

bangkit!

telan bara itu dengan
nadimu

dan ikhlaskan dirimu

akrab dengan dosa

 

makassar, 23 november 2004

 

 

kawan,
datanglah!

 

kau di mana

aku rindu

ingin berpelukan

dan mengakrabkan cacing-cacing

di perut kita

 

kau kemana saja

menghilang seolah tak berbeban

kawan, datanglah!

atau aku yang mendatangimu

 

makassar,
november 2004

 

 

rapat-rapat

 

ha..ha..ha

mereka tertawa

 

hi..hi..hi

ada yang cekikikan

 

hrrghk…hrrrghk….

pun tercekik

 

suara-suara

gemuruh

 

dan kilat

pun bersekongkol
petir

dalam cekikan

cekikikan

 

 

makassar, 23 desember 2004

 

 

aku
benci elitisme

 

oligarki…oligarki

segelintir binatang bermufakat jahat

selewengkan kuasa yang dititipkan massa
rakyat kepadanya

 

oligarki…oligarki

segelintir elit tertawa menang

senang melihat rakyat bersabar

dalam kemiskinan

dalam pembodohan

 

oligarki…oligarki

pemilu bohongan partai penjahat

merajut janji mengobral mimpi-mimpi

yang nyatanya bohongan

sengsaralah rakyat oleh sistem keblinger

dan pilihan yang tak banyak

 

jadilah aku benci elitisme

yang lupa daratan

lupa rakyat

lupa keterlupaannya

 

bulukumba, 1
november 2005

 

 

 

duduk-duduk

 

ada tangga bertingkat

naik-turun

lalu kembali ke latar

 

dengan abu rokok

dan kopi

tukar berganti

dalam kesamaan nasib

 

ini dunia penyitaan

atas sibuk hilir-hulu

setelah bosan
disantap masa

 

kampus unhas-makassar, 28 desember 2004

 

 

 

menapak hening

 

dari
jauh ia memberi

debat
tentang dekat mendekap

dalam

hati
yang menggenggam

lirih
dalam barisan

di
hening resah

dalam

tapakan
rindu yang mengoyakkan

 

bulukumba, 19 agustus 2003

 

bodoh…!!!

 

dari kemarin kita
sama maklum

si merah cari uang

dengan bijak

 

dari kemarin

dengan bijak kita
setor upeti

untuk si merah yang
pintar

atas nama kewajiban

kemudian hak

 

aku inginkan diriku
bodoh

tentang latar
keadilan

pada dialog
pembebasan

pada si lurus yang
patah

di tikungan

 

dengarkanlah hari ini

ketika

si musang tertawa
mengakak

 

makassar, 13 agustus 2003

 

akkhh…!

 

katakan
dengan jelas jangan bergumam

sebab
kita bukan kecoa

yang
tak mesti bersorak ssetelah kenyang

 

katakan
dengan jujur

tentang
teriakan itu

jangan
pendam dengan gelora

sebab
mencangkul adalah doá kepada alam

untuk
keselamatan perjuangan

 

katakanlah
itu sekarang

 

makassar, 18 agustus 2005

 

sekarat

 

aku berpuisi dengan
luka

di kepala yang nyaris
memar biru

tak merata

hangus

 

kutatapi jendela

nyamuk menembus kasa

mengisap

kemudian
mencampakkanku di langit-langit

aku sekarat

 

lima menit lewat delapan
detik

kupapah diriku dengan
seretan

seutas rotan

meski isi perutku
membuncah

tergenang keluar dari
pembaringan

tetap terinjak kaki
kiriku oleh kaki kiri

yang lain

 

lima menit

lewat delapan detik

aku sekarat

 

ramsis unhas tamalanrea-makassar, 17 agutus 2004

 

kedengaran indah

 

di
sini negeri dongeng

yang
menumbuhkan tongkat jadi tanaman

sebab
subur katanya indah

sebab
syukur katanya ikhlas berkata

 

di
sini negeri impian

yang
mana nyawa tak jadi soal

yang
melayang setiap saat

sebab
perut lebih utama

kemudian
syahwat

 

aku
bukan penduduk negeri

sebab
mereka

tak
merelakanku mengusik

dengan
syair di air gurun

lagu
merdu kedengaran indah

 

makassar, 28 agustus 2003

 

sabda putih

 

ketika sabda telah
tiba

cairlah segala beku

runtuhlah segala
tembok kesombongan

dan mengalirlah
sungai kering

dari ladang ke rumah
raksasa

 

sebab itu jangan
ingkari

datangnya rusuh
sembilan hitungan

sebab jika pasar
ditata semrawut

maka pipit berkicau
ramai

 

sambutlah…..

songsonglah sabda itu

dengan keraguan
mendalam

kemudian kokoh yang
menghunjam

di teriknya revolusi
membakar daun

untuk makanan esok

 

makassar, juli 2003

 

 

mulut
terbekap misai

 

lihatlah potret yang menjuntai

dari kaki langit lembah harapan

bercerita tentang bayonet

di ujung ujaran

tak segan

pada malu

yang selaiknya semua bermilik

 

seringai pun tak jadi perkara

ketika misai jadi bemper

tak biarkan lemper

melepuhkan hasrat

sebab tutur

mesti terolah baku

 

lihatlah misai itu

membekap mulut

erat berpadu

dan bau busuk terhalang

sudah uzur

untuk bebas bercumbu bangkai

 

tamalanrea-makassar,
31 oktober 2003

 

 

berhala-berhala

(sabda-ku)

 

meski harus merangkak

terendam dalam rawa

aku tetap lantang
teriak pada engkau

wahai berhala-berhala

“kafirku untukmu!”

dan meski dada
kerempeng

berhias sabetan
belati

berkawan tangan yang
buntung

termakan rayap

aku tetap lantang
teriak pada engkau

wahai berhala-berhala

“kutuklah aku”

 

atau engkau sendiri
yang teriak:

“kafirkanlah aku
dengan kutukan-mu!”

 

puisi di ‘persembunyian’,

pampang 2 makassar, 15 juli 2004

 

 

 

tak
bersarang

 

rajawali mengangkasa

terbang mencari dahan

sambil kenali ranting berpucuk hijau

sisakan badai di kepakan sayap

geram….

cengkram sepi

 

tapi hujan memaksa berlindung

pada rimbun

sambil kenali reda prahara hati

menunggu jelmaan medusa

datang menabur janji

berleha-leha di rakit

bersangga ombak

 

duhai…sarangku

lirih rajawali meratapi pagi

 

ramsis unhas
makassar, 5 juni 2004

 

saung

 

ucapkan sekali lagi

resahan cinta setulus
pagi

yang mengantarkan
terik membakar peluh

didihkan daun di
taman merdeka rakyat berpesta

 

gigit sekali lagi
bibir telungkup-teratas

biar tak jera
melepuhkan kata

revolusi tiada
akhir…!!!

sebab pesan itu pasti
bergema

dari bukit ke lembah
pengatur kaki setelah risau

bersambut pekikan…
rakyat!!!!!

 

makassar, 6 desember 2003

nyamuk

 

dosa
apa menggadai cerita nyamuk

sehingga
membencinya sekejam nista

ataukah
malah cinta padanya?

tentu
saja dengan asap

pertanda
dupa menyiram bara

 

nyalilah
wujud bicaramu

untuk
menggoreng segala mentah

sambil
mengisap rokok di punggung lintah

arungi
comberan penuh jeritan

luka….

 

usirlah….

asap
itu dari hidungmu dengan tepisan

biar
jauh bau pengusik

sebab
kita semua bernyali nyamuk?

 

makassar, 3 desember 2003

 

pusaran

 

kosmos

titik-titik

kecil-besar

di mana kau

berdiri

 

untuk satu yang pusat

kau tenggelam

atau melayang

di pusaran

semestanya

 

lautan raya, 12 agustus 2004

 

panggilan
masa

 

1

 

langit memerah, usap matamu bangun

lekas ambil air siramkan pada dedaunan

segar

dengan atau tanpa qunutmu

lalu kokohkan kaki singkirkan tikar

bangkit!!!

 

…..

 

2

 

si bulat panas enggan ke dingin

redupkan teriknya di kulit gosong

tekuklah lututmu

lalu tundukkan kepala sungkemi bumi

sujud…..

 

…..

 

3

 

renta tersambut kelam

mengaduh lirih dengan berkicau

duhai sang uzur, kiranya mati kapan
menjemput

sebab hamba tak lagi ragu

darah penghabisan

kami haturkan

lakukan itu tanpa bencana

 

 

pampang 2
makassar, 15 juli 2004

 

dari
kades sampai presiden*

 

pajak dari rakyat

suara oleh rakyat

 

tapi…

kemerdekaan

masihkah untuk
rakyat?

 

sudahlah

jangan ngigau

padi itu memang dari
rakyat

sarden itu memang
dari tambak rakyat

tapi kembalinya pada
rakyat

tinggal ampas

tinggal tulang

 

karena dagingnya

sudah dikelupas

oleh perut buncit tak
kenal kenyang

 

sudahlah

jangan pura-pura
kaget

kita semua paham

meski pancasila masih
terpajang

di museum

di wc

pengisapan

korupsi

masih menggerayang

 

dari kades sampai
presiden

 

makassar,2 januari 2005

*dukacita klepto-raya indonesia

 

 

mantra-mantra
revolusi

 

kusatukan satu

lalu kupatuhi jalanku

bergemuruh di barisan tak berongga

menggertak terompet perang

 

makassar,
januari 2005

 

yang
tersisa oleh penggusuran

 

malam menyentakku
sunyi

tanpa deringan sirene
yang kemarin

mengoyakkan
telinga-hatiku di atas ambulans

yang disertakan
patroli

12 orang terluka 1
orang meringkuk

di ruang interogasi

pengap

 

malam menyentakku
geram

memandangi kelilingan
tubuh gelandangan

yang ditambah
kawannya siang tadi

setelah pak hakim
mengetuk-ngetukkan palu

dan disambut derapan
kaki polisi yang mirip

herdernya

berkepala

dengan otak yang
mengetuk-ngetukkan jarinya

di sela-sela
kalkulator sehabis menghitung omset

yang ditulis di balik
lembaran urban licin-kemilau

 

aku gerah tak bisa
tidur di negeri bangsat ini

karena di gedung
dekat ujung hidungku bursa keadilan melelang roh-ku

yang telah dipentungi
si kumis

yang telah dimantrai
si jenggot

hingga pagiku diusik
lapar

 

kawan

malamku telah
dirampas tahajjudku telah tergusur

ta’da lagi do’a
khusyu’ semilir pun menghilang

hingga yang tersisa
hanya puing

kardus tidur
gelandangan baru

dan letupan napas
birahi perlawanan

 

bulukumba, 21-23 januari 2005

 

 

pahlawanku
kurus-dekil

 

dengan asap tersembul dari mulut

yang hitam-bau

dengan pena pinjaman dari kawan

sesama miskin

mencoret-coret abjad

memainkan aljabar takdir

 

dia kawanku

pahlawan tak bermedali

yang membaca takdirnya dengan jujur

sebelum pulang dan berendam di sumur asal

 

dia kawanku

pahlawanku yang kurus

dekil

tak mampu beli air yang terjual

tanah yang terjual

 

dia kawanku

yang miskin

karena menolak dijual

atas nama cinta

selain-nya

 

makassar, 2
januari 2005

 

 

terlipat
dalam gulungan

 

masa sudah parau
memanggil kata

di tua-keriputnya
alur yang kemarin

untuk memenggal warna
yang tak se-ibu

 

ini dunia dahaga

dunianya mustadh’afin
yang menanti percikan api berontak

disulut ke bumi tanah
berpijak

sambil berayun di
tali langit – lauhul mahfuds

 

sabarlah

pendamlah birahi
mudamu

sebab kawanmu masih
terlipat dalam gulungan

cetak biru yang
merekahkan bara menjadi nyala

di padang gembalaan
cita

 

yakinlah

duniamu menjemput
damai

 

makassar,30 januari 2005

 

 

 

di
pengasingan aku masih teriak lantang

 

aku ingin meremukkan matahari

dan mencampakkan baranya biar bumi jadi beku

bekukan darah yang mendidih marah

marah yang tak tertumpahkan

 

aku ingin mengencingi rumah tuhan hingga
mereka jijik menyembah-nya dan menjambakku seperti kecoa

kecoa yang tak lagi geram dengan
penindasan-pengisapan

hingga mereka jijik pada tai mereka sendiri

dan membelah perut-perut buncitnya sendiri

diri yang tak lagi memiliki tumpukan jasad

hingga mereka tak lagi berbakat maling

 

aku ingin merobek-campakkan sayap lalat

biar tak ada lagi kabar busuk

dari mulut-mulut busuk yang didandani janji
1001 malam yang nyatanya adalah tai dan omong kosong

 

aku ingin jadi diri yang tak dimiliki
siapapun

oleh apapun yang menjual

membeli, mengklaim, memfitnah

biar diri-diri yang lainnya tak lagi ragu
satukan diri ceraikan kesendirian

pada barisan tegar yang menabrak duri

tanpa segan singkirkan tirani kafir

 

aku ingin secepatnya tak lagi ingin dalam
harapan

dalam impian hingga berontakku berontak kami

temukan jalan sepanjang makna

atas nama nafas yang menanti mati

 

makassar, 14
september 2005

 

raungan martir

 

tunggal aku berdiri
pada esa-nya

kokoh tak kan
terbelah

tak ada keluh

tak ada penyesalan

sebab jihad adalah
nurani perjuangan

meski angin berhembus
ke lain arah

pantang berpihak pada
berhala sesat

 

hei rezim haram jadah

serapahmu adalah
pemantik darah muda

kukobarkan perlawanan
tak kenal usai

aku melawanmu!!!

 

hei rezim terkutuk

penggal kepalaku

alirkan darahku untuk
hijau dedaunan

yang kurus terisap

hingga kami
bergemeretakan

menyongsong sabda
putih revolusi

maka jeritan itu tak
sia-sia

 

pondokan tak bernama-makassar, 20 juli 2004

 

 

 

stop! jadi
bangsa pengutang

 

subsidi untuk rakyat terkikis perlahan di depan mata

kosakatanya pun mulai pudar di kamus anggaran

rakyat tak boleh manja-katanya

rakyat tak boleh cengeng karenanya

 

biarkan rakyat belajar berdagang

memperdagangkan moralitas yang nyatanya memang telah
tergadai

kepada rentenir

kepada kapitalis-kapitalis laknat

 

stop! kurangi dan hentikan subsidi rakyat

jual apa yang bisa dijual

janjikan apa saja yang bisa diobral

asal kita bukan bangsa miskin

asal bantuan tetap mengalir

asal rakyat tetap sabar tak banyak omong

asal stabilitas tetap terjaga

asal-asalan…

kita pasti masuk surga

ya tentu surganya bangsa kere

 

bantuan luar negeri-pembangunan-demokratisasi

itu utang luar negeri yang harus dilunasi

secepatnya atau teken kontrak lagi

tambah utang – tambahkan waktu

kepada mesin-mesin raksasa negara kapitalis

menguras bumi tebangi hutan

dan menggerayangi gadis-gadis perawan desa?

 

stop!

berhenti jadi bangsa pengutang

robek saja kontrak yang tak pernah diteken dan dinikmati

nenek moyang pejuang kita

bukan utang anak cucu kita

tapi utangnya pedagang bangsa

utangnya kaum yang memelihara
penjaga

pagar berkawat kejam

utang dari membeli senapan
pembunuh rakyat

 

stop!

berhenti jadi bangsa pengutang

karena bumi ini kaya raya
rakyat pun kuat bertani

biar tak makan keju

cukup singkong bakar di perut

asal pabrik-pabrik milik
sendiri

asal sekolah-sekolah milik
sendiri

asal jangan mengutang lagi pada
rentenir-rentenir kapitalis

rakyat pasti temukan surga

memerdekakan surga yang telah
mereka pindahkan

dari kepala-kepala kaum timur

 

stop! jadi bangsa pengutang

atau berhenti jadi bangsa

menjadi bangsat

 

bulukumba, 2 november 2005

 

 

(barangsiapa dengan
sengaja ataupun tidak sengaja mengutip sebagian ataupun keseluruhan isi tulisan
ini, tidak akan diajukan ke meja hijau,  meja
merah, kuning ataupun ujian meja…ataupun vjkvnhghg ah…sontoloyo)

 

under: Science

Adios !?

Posted by: abdulwaris | July 25, 2008 | 2,926 Comments |


<!–
@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm }
P { margin-bottom: 0cm; text-align: justify }
P.western { so-language: id-ID }
–>

Adios!

Ini
ucapan ternikmat kepada malam yang telah menelantarkanku di kedinian
pagi. Meski remeh dalam melatahkannya, tak semua mampu menelan apa
yang telah usai terkunyah masa.

 

***

Seniorita,

Aku
tak terlampau peduli, entah sampai kapan lakon-oral itu menelikung
kita dalam peruntungan takdir yang menjerat. Memang, Tuhan tak sedang
bermain dadu apatah lagi sedang bergaduh menertawakan kejenakaan
bumi. Ia, konon dari kumalnya al-Kitab, malah sangat
care
menelongsorkan tangan-Nya meski harus
membelai duri dan menetaskan ceceran darah dari luka yang telah
dijilati
lucifer,…terkaratkan
dan usai. Maka dari lebatnya kumis
Nietzhe mengalirlah air liur ratapan, tuhan
telah mati. Sekali lagi aku ikut berkabung di redupnya malam,
menjelang pagi yang menghardik pementasan. Tentunya penopengan kita
atas nama ideologi adalah penyandaran
profesionalisme
yang terpahami”, setidaknya dari
perbincangan-perbincangan kita sejak dari terbitnya matahari yang
kemarin.

 

Seniorita,

Aku
sudah terlampau tabah untuk tidak sering
ber-jejalan
di halte-halte, menghadang truk-truk besar yang konon di dalamnya
terbungkus matahari dengan keju, tawas dan kondom.
Aji
mumpung
memang teramat lembut untuk
dikunyah, tapi itu buat mulut-mulut yang tega mencret tanpa celana
dan membiarkan jantungnya dikunyah
stroke.
Maka kurelakan kakiku menelusuri jalanan panas berdebu, menyinggung
nurani
traffic light
yang banyak dikedip-kedipkan di koran-koran, televisi dan pasar
moral. Aku memilih tak berlabel dan tak berharga ketimbang terjual!!.

 

Seniorita,

Jikalau
aku bertanya, “mengapa tak kau tepis juga tangan kekar yang
menjamah kemaluanmu itu?”, tegakah
seniorita
menepiskan lagi (tanyaku ini) menjadi
sekumpulan kata prihatin tentang pembungkaman yang didiamkan!?.
Ah…
seniorita, bahasa
kita terlampau pelik untuk lugas dalam kejujuran menjawab pertanyaan.
Basa-basi sudah bukan barang basi lagi. Kan ada
fresher
dan bahan sintetik yang mampu
mengawetkannya. Ditambah lagi dengan operasi plastik serta injeksi
silikon pada kelamin kita. Segalanya menjadi
instant
dalam keruwetan
kabel-kabel sibernasi. Pun tulisan ini
terperangkap di dalamnya. 

 

Tapi
seniorita
,

Jangan
coba-coba ber-milik kehendak untuk berpaling. Lehermu sudah ditumbuhi
paku dan kawat berduri penahan massa berontak. Tak ubahnya
herder,
matamu memang masih sering menjilat
empati tapi syaraf simpatimu telah dijadikan tali jemuran kulit-kulit
domba yang dianggap
deviant.
Aku pun mulai jijik padamu, seniorita.
Sungguh, aku ingin menjambak rambutmu,
tapi tidak sebagai halnya jambakan di masa kecil dulu.

 

***

 

Jujur,
aku tak pernah menyangka secepat itu gelombang dera dititipkan oleh
majikanmu, terlebih ketegaanmu menerimanya hanya karena
seniorita
nge-fans
berat dengan Abraham
Lincoln
 dan
rindu sayatan tangis.

 

Aku
sangat kaget
seniorita. Terlampau
sempit waktuku menjamah penyelesaian acaknya
puzzle
ini, sebab pagi sudah mengintai dan
menembakku jatuh. Roboh tanpa label, tanpa harga.

 

Adios,
seniorita!

 

Makassar,15 Februari 2005, 04.41
wita

under: Science

Older Posts »

Categories