kata
pengantar perlawanan
(untuk anakku yang senantiasa terlahir dan mencipta)
salam damai hanya
bagi revolusioner muda
yang tegar menantang
zaman
kutukan binasa untuk
ketidakjelasan sikap
yang sembunyi di
balik ketiak kekuasaan tirani
laknatullah ‘alaih
ini jimat sakti dari
kawah deritanya kaum miskin-papa
dari jeritan lukanya
petarung tangguh
yang mencengkram bara
kesaksian
kesaksian sejarah
para nabi
ini skripsi ampuh
intelektual pemberontak
yang ditulis di
sela-sela perihnya pedagang kecil disantapi urban-industri
yang ditulis di sela-sela
amukan pentungan aparat pecundang
tentang terkaitnya
makna pada kata
perlawanan ideologis
atas rezim fir’aun, rezim bal’an, rezim qabil
laknatullah ‘alaih
pengantarku adalah
barisan seram
mimpi buruk bagi
tirani
pengiringku adalah
barisan kata perlawanan
tak berujung-tepi
sebab dari kemarin
tegur-sapaku
menjadi takdir
perubahan zaman
menjadi salam penutup
lembaran abadi
adil-makmur
kampus unhas makassar, 14 september 2005
meski aku bukan bunga
yang takut layu dan
tercabut akarnya
meski
aku bukan bunga yang takut layu
dan
tercabut akarnya
tapi
jangan lupa siraman penyegar
di
teriknya bara ini kami nantikan
bukan
diam, ejekan atau fragmentase
meski
aku bukan bunga yang harum
pengisi
taman cerita heroik
tapi
jangan lupa aku bukan parasit
seperti
mereka
yang
harus diganyang hingga binasa
meski
aku bunga yang tak lagi mekar
perawan
tapi
jangan fitnah aku sebagai pelacur
sebab
aku tak pernah jadi anjing
yang
menjilati pantat bernanah
kaum
tiran
meski
aku bunga harum
memabukkan
tapi
jangan terlena
tertidur
tertipu
oleh
fantasi, kenangan dan bualan
makassar, 15 september 2005
jumát
berdarah
dari bukit zion
menyala sirene marah
dari moncong
terkokang siap memangsa
manusia makan manusia
entah kapan catatan
ini terisi
dengan limbah
dengan sampah
dengan sumpah
dengan serapah
pp…..puah
kita memang selalu
amnesia
setelah pura-pura
insomnia
kalau ini hari jumát
tak boleh berdarah
kecuali tuhan
menghendaki?
pp…..puah
pahamilah keadilan
ini hari jumát
makassar, 31 desember 2004
coret-coret
hi..hi..hi
hi..hi..hiii…
ihik…ihik…ihik…
ihhik…ihhik
huk…huk…huk
hhuk…hhuk
akkhhh…
tamalanrea-makassar, 23 desember 2004
menanti pagi yang terang
(balada tentara vs tentara)
segerombolan rayap
menggerogoti tiang bendera
sejarah nenek
moyangku
hingga tak lagi tegak
condong ke barat dan
nyaris roboh
tali kekangnya pun
sudah renggang
oleh rayap-rayap yang
bergerombol
segerombolan tentara
yang kemarin siang dimaki massa
merayap dengan
senapan siap tembak
menjaga
demarkasi-mengintai musuh
yang juga merayap
terbata dengan bata di tangan
dan sabit di pinggang
tiang bendera
tiba-tiba meludah kecut
resah
pilih rebah ke barat
tu menaungi rayapan
bata-sabit?
di pagi yang merdeka
merdeka yang kepagian
makassar, november 2004
dengarlah teguran
sabda alam
jikalau
ini teguran kepada koruptor
kenapa
mesti rakyat miskin ikut terseret
mereka
kan tak ikut korupsi?
seperti
bapak-bapak yang di sana
jikalau
ini tamparan
tegakah
tangan itu menjamah pipi mungil si bayi
dan
keriputnya dahi si tua
tidak..tidak
ini
bukan petaka
bukan
pula karena kita tidak ber-uang
untuk
beli seismograf
atau
mencairkan pundi-pundi beku
karena
minyak mencekik
ini
sabda alam
yang
mengambil jatah gizinya
setelah
bosan
dikuras…..
dikencingi…..
dan
disanjung-manis
dengarlah
teguran
sabda alam
jangan
lupa sikat gigi sebelum membaca
makassar, 26 desember 2004
matahari ganti kulit
dengan hitungan
mundur
matahari mengelupas
ozon menggelepar
dan rembulan
megap-megap menyibak mendung
ini perjalanan masa
di mana kita tercekik
penjara
tunduk
meski lenguhan
sesekali menegur lirih
setelah itu bungkam
lihat, matahari
sedang ganti kulit
karena gerah
dikerangkeng ambisi
dan kerak itupun
terbuang
dalam bingkisan
tsunami
dalam bingkisan
kertas minyak
dalam tumpukan meja
hijau
dan koreng itupun
melepuh
pada dendam pada
birahi alam
yang kemarin tak
terbalaskan
lihat, matahari sudah
ganti kulit
sekarang lagi
berendam
bersama tumpukan
roh-roh
yang melayang dengan
kaget
mendengar jeritan
terompet
pada pengantar doá
makan
ini perjalanan masa
di mana kita harus
berendam
atau direndam
makassar, awal januari 2005
lahirkanlah, ibu
(puisi untuk ibu)
ketuban
pecah
rahim
terkoyak
tersembullah
jeritan si orok
menantang
sembilan hitungan
dengan
tangan terkepal bulat
utuh
si
ibu menyeringai
serigala
melolong mesra
menatapinya
di balik matahari
dengan
birahi
melihat
si hijau menetek mesra
jangan….
jangan….
jangan
relakan ia diasuh dajjal
yang
memasak bubur dengan tangan dekil
yang
menciumi budak
sambil
tangan membanting kompor
untuk
janji 1001 malam
jangan….
jangan…..
lihatlah
si orok menolak bapak
karena
mulutnya bau asbak
habis
sidang di gedung tingkat
jangan…
jangan….
jangan-jangan
makassar, 21 desember 2004 pkl.13.11 wita
kaum miskin, majulah !
biarkan matahari
merah
melepuh dalam bara
dan kulit-kulit
terbakar gosong
menanti rerumputan
marah
beras-beras yang
terbagi di pembuangan
perut kempis teratur
jelas, itu maunya
rezim
bangkit!
telan bara itu dengan
nadimu
dan ikhlaskan dirimu
akrab dengan dosa
makassar, 23 november 2004
kawan,
datanglah!
kau di mana
aku rindu
ingin berpelukan
dan mengakrabkan cacing-cacing
di perut kita
kau kemana saja
menghilang seolah tak berbeban
kawan, datanglah!
atau aku yang mendatangimu
makassar,
november 2004
rapat-rapat
ha..ha..ha
mereka tertawa
hi..hi..hi
ada yang cekikikan
hrrghk…hrrrghk….
pun tercekik
suara-suara
gemuruh
dan kilat
pun bersekongkol
petir
dalam cekikan
cekikikan
makassar, 23 desember 2004
aku
benci elitisme
oligarki…oligarki
segelintir binatang bermufakat jahat
selewengkan kuasa yang dititipkan massa
rakyat kepadanya
oligarki…oligarki
segelintir elit tertawa menang
senang melihat rakyat bersabar
dalam kemiskinan
dalam pembodohan
oligarki…oligarki
pemilu bohongan partai penjahat
merajut janji mengobral mimpi-mimpi
yang nyatanya bohongan
sengsaralah rakyat oleh sistem keblinger
dan pilihan yang tak banyak
jadilah aku benci elitisme
yang lupa daratan
lupa rakyat
lupa keterlupaannya
bulukumba, 1
november 2005
duduk-duduk
ada tangga bertingkat
naik-turun
lalu kembali ke latar
dengan abu rokok
dan kopi
tukar berganti
dalam kesamaan nasib
ini dunia penyitaan
atas sibuk hilir-hulu
setelah bosan
disantap masa
kampus unhas-makassar, 28 desember 2004
menapak hening
dari
jauh ia memberi
debat
tentang dekat mendekap
dalam
hati
yang menggenggam
lirih
dalam barisan
di
hening resah
dalam
tapakan
rindu yang mengoyakkan
bulukumba, 19 agustus 2003
bodoh…!!!
dari kemarin kita
sama maklum
si merah cari uang
dengan bijak
dari kemarin
dengan bijak kita
setor upeti
untuk si merah yang
pintar
atas nama kewajiban
kemudian hak
aku inginkan diriku
bodoh
tentang latar
keadilan
pada dialog
pembebasan
pada si lurus yang
patah
di tikungan
dengarkanlah hari ini
ketika
si musang tertawa
mengakak
makassar, 13 agustus 2003
akkhh…!
katakan
dengan jelas jangan bergumam
sebab
kita bukan kecoa
yang
tak mesti bersorak ssetelah kenyang
katakan
dengan jujur
tentang
teriakan itu
jangan
pendam dengan gelora
sebab
mencangkul adalah doá kepada alam
untuk
keselamatan perjuangan
katakanlah
itu sekarang
makassar, 18 agustus 2005
sekarat
aku berpuisi dengan
luka
di kepala yang nyaris
memar biru
tak merata
hangus
kutatapi jendela
nyamuk menembus kasa
mengisap
kemudian
mencampakkanku di langit-langit
aku sekarat
lima menit lewat delapan
detik
kupapah diriku dengan
seretan
seutas rotan
meski isi perutku
membuncah
tergenang keluar dari
pembaringan
tetap terinjak kaki
kiriku oleh kaki kiri
yang lain
lima menit
lewat delapan detik
aku sekarat
ramsis unhas tamalanrea-makassar, 17 agutus 2004
kedengaran indah
di
sini negeri dongeng
yang
menumbuhkan tongkat jadi tanaman
sebab
subur katanya indah
sebab
syukur katanya ikhlas berkata
di
sini negeri impian
yang
mana nyawa tak jadi soal
yang
melayang setiap saat
sebab
perut lebih utama
kemudian
syahwat
aku
bukan penduduk negeri
sebab
mereka
tak
merelakanku mengusik
dengan
syair di air gurun
lagu
merdu kedengaran indah
makassar, 28 agustus 2003
sabda putih
ketika sabda telah
tiba
cairlah segala beku
runtuhlah segala
tembok kesombongan
dan mengalirlah
sungai kering
dari ladang ke rumah
raksasa
sebab itu jangan
ingkari
datangnya rusuh
sembilan hitungan
sebab jika pasar
ditata semrawut
maka pipit berkicau
ramai
sambutlah…..
songsonglah sabda itu
dengan keraguan
mendalam
kemudian kokoh yang
menghunjam
di teriknya revolusi
membakar daun
untuk makanan esok
makassar, juli 2003
mulut
terbekap misai
lihatlah potret yang menjuntai
dari kaki langit lembah harapan
bercerita tentang bayonet
di ujung ujaran
tak segan
pada malu
yang selaiknya semua bermilik
seringai pun tak jadi perkara
ketika misai jadi bemper
tak biarkan lemper
melepuhkan hasrat
sebab tutur
mesti terolah baku
lihatlah misai itu
membekap mulut
erat berpadu
dan bau busuk terhalang
sudah uzur
untuk bebas bercumbu bangkai
tamalanrea-makassar,
31 oktober 2003
berhala-berhala
(sabda-ku)
meski harus merangkak
terendam dalam rawa
aku tetap lantang
teriak pada engkau
wahai berhala-berhala
“kafirku untukmu!”
dan meski dada
kerempeng
berhias sabetan
belati
berkawan tangan yang
buntung
termakan rayap
aku tetap lantang
teriak pada engkau
wahai berhala-berhala
“kutuklah aku”
atau engkau sendiri
yang teriak:
“kafirkanlah aku
dengan kutukan-mu!”
puisi di ‘persembunyian’,
pampang 2 makassar, 15 juli 2004
tak
bersarang
rajawali mengangkasa
terbang mencari dahan
sambil kenali ranting berpucuk hijau
sisakan badai di kepakan sayap
geram….
cengkram sepi
tapi hujan memaksa berlindung
pada rimbun
sambil kenali reda prahara hati
menunggu jelmaan medusa
datang menabur janji
berleha-leha di rakit
bersangga ombak
duhai…sarangku
lirih rajawali meratapi pagi
ramsis unhas
makassar, 5 juni 2004
saung
ucapkan sekali lagi
resahan cinta setulus
pagi
yang mengantarkan
terik membakar peluh
didihkan daun di
taman merdeka rakyat berpesta
gigit sekali lagi
bibir telungkup-teratas
biar tak jera
melepuhkan kata
revolusi tiada
akhir…!!!
sebab pesan itu pasti
bergema
dari bukit ke lembah
pengatur kaki setelah risau
bersambut pekikan…
rakyat!!!!!
makassar, 6 desember 2003
nyamuk
dosa
apa menggadai cerita nyamuk
sehingga
membencinya sekejam nista
ataukah
malah cinta padanya?
tentu
saja dengan asap
pertanda
dupa menyiram bara
nyalilah
wujud bicaramu
untuk
menggoreng segala mentah
sambil
mengisap rokok di punggung lintah
arungi
comberan penuh jeritan
luka….
usirlah….
asap
itu dari hidungmu dengan tepisan
biar
jauh bau pengusik
sebab
kita semua bernyali nyamuk?
makassar, 3 desember 2003
pusaran
kosmos
titik-titik
kecil-besar
di mana kau
berdiri
untuk satu yang pusat
kau tenggelam
atau melayang
di pusaran
semestanya
lautan raya, 12 agustus 2004
panggilan
masa
1
langit memerah, usap matamu bangun
lekas ambil air siramkan pada dedaunan
segar
dengan atau tanpa qunutmu
lalu kokohkan kaki singkirkan tikar
bangkit!!!
…..
2
si bulat panas enggan ke dingin
redupkan teriknya di kulit gosong
tekuklah lututmu
lalu tundukkan kepala sungkemi bumi
sujud…..
…..
3
renta tersambut kelam
mengaduh lirih dengan berkicau
duhai sang uzur, kiranya mati kapan
menjemput
sebab hamba tak lagi ragu
darah penghabisan
kami haturkan
lakukan itu tanpa bencana
pampang 2
makassar, 15 juli 2004
dari
kades sampai presiden*
pajak dari rakyat
suara oleh rakyat
tapi…
kemerdekaan
masihkah untuk
rakyat?
sudahlah
jangan ngigau
padi itu memang dari
rakyat
sarden itu memang
dari tambak rakyat
tapi kembalinya pada
rakyat
tinggal ampas
tinggal tulang
karena dagingnya
sudah dikelupas
oleh perut buncit tak
kenal kenyang
sudahlah
jangan pura-pura
kaget
kita semua paham
meski pancasila masih
terpajang
di museum
di wc
pengisapan
korupsi
masih menggerayang
dari kades sampai
presiden
makassar,2 januari 2005
*dukacita klepto-raya indonesia
mantra-mantra
revolusi
kusatukan satu
lalu kupatuhi jalanku
bergemuruh di barisan tak berongga
menggertak terompet perang
makassar,
januari 2005
yang
tersisa oleh penggusuran
malam menyentakku
sunyi
tanpa deringan sirene
yang kemarin
mengoyakkan
telinga-hatiku di atas ambulans
yang disertakan
patroli
12 orang terluka 1
orang meringkuk
di ruang interogasi
pengap
malam menyentakku
geram
memandangi kelilingan
tubuh gelandangan
yang ditambah
kawannya siang tadi
setelah pak hakim
mengetuk-ngetukkan palu
dan disambut derapan
kaki polisi yang mirip
herdernya
berkepala
dengan otak yang
mengetuk-ngetukkan jarinya
di sela-sela
kalkulator sehabis menghitung omset
yang ditulis di balik
lembaran urban licin-kemilau
aku gerah tak bisa
tidur di negeri bangsat ini
karena di gedung
dekat ujung hidungku bursa keadilan melelang roh-ku
yang telah dipentungi
si kumis
yang telah dimantrai
si jenggot
hingga pagiku diusik
lapar
kawan
malamku telah
dirampas tahajjudku telah tergusur
ta’da lagi do’a
khusyu’ semilir pun menghilang
hingga yang tersisa
hanya puing
kardus tidur
gelandangan baru
dan letupan napas
birahi perlawanan
bulukumba, 21-23 januari 2005
pahlawanku
kurus-dekil
dengan asap tersembul dari mulut
yang hitam-bau
dengan pena pinjaman dari kawan
sesama miskin
mencoret-coret abjad
memainkan aljabar takdir
dia kawanku
pahlawan tak bermedali
yang membaca takdirnya dengan jujur
sebelum pulang dan berendam di sumur asal
dia kawanku
pahlawanku yang kurus
dekil
tak mampu beli air yang terjual
tanah yang terjual
dia kawanku
yang miskin
karena menolak dijual
atas nama cinta
selain-nya
makassar, 2
januari 2005
terlipat
dalam gulungan
masa sudah parau
memanggil kata
di tua-keriputnya
alur yang kemarin
untuk memenggal warna
yang tak se-ibu
ini dunia dahaga
dunianya mustadh’afin
yang menanti percikan api berontak
disulut ke bumi tanah
berpijak
sambil berayun di
tali langit – lauhul mahfuds
sabarlah
pendamlah birahi
mudamu
sebab kawanmu masih
terlipat dalam gulungan
cetak biru yang
merekahkan bara menjadi nyala
di padang gembalaan
cita
yakinlah
duniamu menjemput
damai
makassar,30 januari 2005
di
pengasingan aku masih teriak lantang
aku ingin meremukkan matahari
dan mencampakkan baranya biar bumi jadi beku
bekukan darah yang mendidih marah
marah yang tak tertumpahkan
aku ingin mengencingi rumah tuhan hingga
mereka jijik menyembah-nya dan menjambakku seperti kecoa
kecoa yang tak lagi geram dengan
penindasan-pengisapan
hingga mereka jijik pada tai mereka sendiri
dan membelah perut-perut buncitnya sendiri
diri yang tak lagi memiliki tumpukan jasad
hingga mereka tak lagi berbakat maling
aku ingin merobek-campakkan sayap lalat
biar tak ada lagi kabar busuk
dari mulut-mulut busuk yang didandani janji
1001 malam yang nyatanya adalah tai dan omong kosong
aku ingin jadi diri yang tak dimiliki
siapapun
oleh apapun yang menjual
membeli, mengklaim, memfitnah
biar diri-diri yang lainnya tak lagi ragu
satukan diri ceraikan kesendirian
pada barisan tegar yang menabrak duri
tanpa segan singkirkan tirani kafir
aku ingin secepatnya tak lagi ingin dalam
harapan
dalam impian hingga berontakku berontak kami
temukan jalan sepanjang makna
atas nama nafas yang menanti mati
makassar, 14
september 2005
raungan martir
tunggal aku berdiri
pada esa-nya
kokoh tak kan
terbelah
tak ada keluh
tak ada penyesalan
sebab jihad adalah
nurani perjuangan
meski angin berhembus
ke lain arah
pantang berpihak pada
berhala sesat
hei rezim haram jadah
serapahmu adalah
pemantik darah muda
kukobarkan perlawanan
tak kenal usai
aku melawanmu!!!
hei rezim terkutuk
penggal kepalaku
alirkan darahku untuk
hijau dedaunan
yang kurus terisap
hingga kami
bergemeretakan
menyongsong sabda
putih revolusi
maka jeritan itu tak
sia-sia
pondokan tak bernama-makassar, 20 juli 2004
stop! jadi
bangsa pengutang
subsidi untuk rakyat terkikis perlahan di depan mata
kosakatanya pun mulai pudar di kamus anggaran
rakyat tak boleh manja-katanya
rakyat tak boleh cengeng karenanya
biarkan rakyat belajar berdagang
memperdagangkan moralitas yang nyatanya memang telah
tergadai
kepada rentenir
kepada kapitalis-kapitalis laknat
stop! kurangi dan hentikan subsidi rakyat
jual apa yang bisa dijual
janjikan apa saja yang bisa diobral
asal kita bukan bangsa miskin
asal bantuan tetap mengalir
asal rakyat tetap sabar tak banyak omong
asal stabilitas tetap terjaga
asal-asalan…
kita pasti masuk surga
ya tentu surganya bangsa kere
bantuan luar negeri-pembangunan-demokratisasi
itu utang luar negeri yang harus dilunasi
secepatnya atau teken kontrak lagi
tambah utang – tambahkan waktu
kepada mesin-mesin raksasa negara kapitalis
menguras bumi tebangi hutan
dan menggerayangi gadis-gadis perawan desa?
stop!
berhenti jadi bangsa pengutang
robek saja kontrak yang tak pernah diteken dan dinikmati
nenek moyang pejuang kita
bukan utang anak cucu kita
tapi utangnya pedagang bangsa
utangnya kaum yang memelihara
penjaga
pagar berkawat kejam
utang dari membeli senapan
pembunuh rakyat
stop!
berhenti jadi bangsa pengutang
karena bumi ini kaya raya
rakyat pun kuat bertani
biar tak makan keju
cukup singkong bakar di perut
asal pabrik-pabrik milik
sendiri
asal sekolah-sekolah milik
sendiri
asal jangan mengutang lagi pada
rentenir-rentenir kapitalis
rakyat pasti temukan surga
memerdekakan surga yang telah
mereka pindahkan
dari kepala-kepala kaum timur
stop! jadi bangsa pengutang
atau berhenti jadi bangsa
menjadi bangsat
bulukumba, 2 november 2005
(barangsiapa dengan
sengaja ataupun tidak sengaja mengutip sebagian ataupun keseluruhan isi tulisan
ini, tidak akan diajukan ke meja hijau, meja
merah, kuning ataupun ujian meja…ataupun vjkvnhghg ah…sontoloyo)